KELULUSAN SD SEKOLAH ALAM PRASASTI 2023

 Cerita kemarin soal anak SMA.

Sekarang saya mau cerita yang SD. Sayang kalau dilewatkan.
SD kita meluluskan 4 orang. Dengan body rata-rata yang super jumbo. Usia pun termasuk tua. untuk ukuran SD
Yang pertama sebut saja si Babang. Usia 15 Tahhun. Hehehe...lazimnya kan 12/13 tahun.
Awal di sini. Ia benar-benar kecanduan Hape. Sampe megangin tangan seniornya. "Baang, hape baaang....."
Ampe robek itu bajunya. Kalau lagi shalat, itu mirip tahanan mau ke tiang gantungan. malesss....untungnya kalau makan porsinya juga jumbo. Bisa nambah 2 atau 3 kali itu sekali makan. Sekarang kalau malam dilarang Bunda. Takut obesitas.
SI Babang ini ajaib. Dalam usia bulanan. Ibu Kandungnya meninggal dunia. Menikahlah sang ayah dengan seorang mojang Garut. Takdir berkata lain. Ayahnya juga dipanggil Allah. Maka, jadilah ia Yatim piatu. Kini, ia Yatim piatu plus. Karena Ibu Sambungnya juga meninggaldunia.
Si Babang ini sebenernya anak berkebutuhan khusus. Ia masih belum bisa membaca dan menulis. Makanya, di sekolah konvensional ia sempat Tidak Naik kelas, dua tahun. Pastilah DIsekolah dengan mengandalkan hanya kercerdasan intelektual. Anak dianggap bodoh bila tidak bisa membaca.
Sekolah Alam Prasasti menganut mazhab Multiple Inteligent. Kecerdasan berganda. Anak bisa saja tidak cerdas dalam intelektual. Tapi ia mungkin punya kelebihan pada bidang-bidang lainnya.
Nah si Babang ini memang kurang dalam intelektualitas. Tapi ia menjadi andalan Abah dan Bunda bila ada urusan-urusan teknis. Mesin Aer mati. Ganti ban mobil. dll...
yang seru, saat mau ujian di Sekolah Induk. yang kudu pake celana merah dan baju putih. Cari-cari ukuran yang pas. Gak ketemu. Kita pusing cari celana SD buat anak dengan ukuran jumbo. Di Pasar Muara Gak ada. Pasar lain juga bingung.
Sempat down juga.
Alhamdulillah, pertolongan Allah datang sehari sebelum ujian. Kita bikin celana merah sama Bang Dede. Sujud syukur. Hanya hitungan jam. Celana merah si Babang kelar....fpuuuiiihh,,.....Allah benar-benar memberikan jalan keluar dari arah yang tak terduga...
Lulusan yang kedua juga 15 tahun. Sempat dua tahun. Pindah-pindah pesantren. Ia piatu. Ibunya meninggal dunia. Hanya saat ortu laki2 gak ngaku. Apalagi tanggungjawab. Jadilah ia yatim piatu de facto.
Yang kedua ini tergolong cerdas secara intelektual. Hafalan al Qurannya sudah 4 juz. Cuma kalau lagi datang mager. Hmm...dibom juga gak begerak dia mah.
Yang ketiga, bukan yatim. bukan piatu. Ayah ibunya masih lengkap. Kerjanya serabutan. Selama covid, ia gak sekolah alias di rumah saja. Selama dua tahun. Alhamdulillah, Allah pertemukan kita. Jadilah ia sekolah di Sekolah Alam Prasasti.
Saya salut dengan kedua orang tuanya. walau serba kekurangan. Tapi untuk cinta dan perhatian. Mereka komplit. Makanya dari dua anaknya yang nyantren Prestasi Adab nomor satu. Bahasanya halus. Kedewasaannya juga kelihatan.
Yang hebat, orang tuanya bela-belain datang hanya bawa dasi buat ujian.
yang Keempat. Juga bukan yatim piatu. Tapi kedua orang tuanya broken home. Ayahnya sudah menikah lagi Ibunya juga sudah.
Hidup itu tidak sempurna.
Karena di situ kemudian ada peluang pahala untuk saling melengkapi......
Lihat insight dan iklan
Semua tanggapan:
Roni Jaya Putra, Arie Londo dan 45 lainnya

Komentar