KAMPUNG BETAWI ORATarumajaya, Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
Selain untuk berbagi informasi mengenai segala hal yang berhubungan dengan betawi, ini juga adalah tempat untuk menjalin silaturahmi dan menggalang kebersamaan bagi saudara-saudara dari betawi khususnya. Terbuka juga untuk umum bila ingin memberikan saran dan komentar yang positif dan membangun. Di Kampung ini, semua orang boleh memberi saran dan kritik. Dengan syarat : harus positif dan membangun. Karena tujuan dibuatnya kampung ini yaitu untuk menambah pengetahuan tentang Betawi dan menggalang kebersamaan serta menjalin silaturahmi dengan sebanyak-banyaknya orang. Jadi, Nyo ah, kita pada rempug...View my complete profile
Comments (0) |
Sebelumnya, Kampung Betawi Ora memohon maaf bila di sini
ada tambahan tulisan yang khusus mengenai Bekasi. Ini karena sesuai
dengan nama kampungnya yaitu Kampung Betawi Ora yang kerap diidentikkan
oleh Orang Betawi Jakarta sebagai Bekasi dan sekitarnya di luar Jakarta.
Jadi harap maklum bila Kampung Betawi Ora mencoba memperkenalkan nama
kampungnya sendiri. Atas perhatiannya Kampung Betawi Ora mengucapkan
banyak terimakasih.
Nama Bekasi menurut Prof. Dr. Poerbatjaraka berasal dari kata Chandra atau Sasih artinya Bulan dan Bhaga artinya Bahagian. Semula dari Chandra Bhaga melalui kata Bhagasasi menjadi Bekasi. Nama ini merupakan salah satu kota penting pada zaman kerajaan Tarumanagara. Hal ini berdasarkan penemuan-penemuan benda-benda sejarah di kabupaten Bekasi, berupa :
Alat pemukul kulit kayu di Cariu (Cibarusa).Periuk di Buni
Wates.Benda sejarah lainnya di Buni Babelan seperti Kapak Batu,
Tengkorak, Gelang, Cincin, Periuk.Prasasti Tugu yang ditemukan di
Cilincing.Daerah Bekasi telah memegang peranan kebudayaan sebelum
lahirnya Pajajaran, dan secara geografis Bekasi masuk daerah kerajaan
Tarumanagara pada abad ke-15.
Abad ke-9 dan 10 lahirlah kerajaan Pajajaran sebagai kelanjutan dari
kerajaan Galuh dengan ibukotanya Pakuan Pajajaran Bogor dan kota-kota
pelabuhan penting tercatat pula lahir di zaman ini ialah Karangantu
(Banten), Tangerang, Kelapa, Bekasi, Karawang, Cilamaya dan Cirebon.
Bekasi pada waktu itu bukan saja salah satu kota pelabuhan penting
kerajaan Pajajaran, bahkan sejak zaman kerajaan Galuh, Bekasi memegang
peranan di dalam jalan-jalan darat sampai zamannya kerajaan Pajajaran
antara kota-kota Pakuan Pajajaran, Bogor – Cileungsi (Cibarusa) – Warung
Gede – Tanjung Pura – Karawang – Cikao – Purwakarta – Sagara Herang –
Sumedang – Tomo – Raja Galuh – Kawali – Bojong Galuh (Ciamis).
Jalur jalan darat ini dahulu merupakan jalan raya penting pada zaman
kerajaan Galuh sampai kerajaan Pajajaran (Bogor). Setelah kerajaan
Pajajaran Runtuh oleh serangan tentara Maulana Yusuf kerajaan Islam
Banten, daerah Pajajaran ada di bawah pengaruh agama islam. Namun karena
pengaruh pemerintahan kurang terbina sepenuhnya, maka lahirlah kerajaan
Sumedang Larang sebagai pewaris yang dekat keturunan kerajaan Pakuan
Pajajaran.
Kerajaan Sumedang Larang (Sumedang) meliputi penguasaan daerah kerajaan
kecil (kabupaten) Sumedang, Sukakerta, Limbangan, Galuh, Bandung,
Cianjur dan Karawang termasuk Bekasi. Di saat itu Karawang meliputi
daerah penguasaan Bekasi, Sindang Kasih (Purwakarta), Sagara Herang
(Subang) sekarang karesidenan Purwakarta. Di luar daerah tersebut di
wilayah Jawa Barat di bawah kekuasaan langsung kerajaan Banten dan
Cirebon.
Setelah Jayakarta direbut oleh VOC dan berdiri Batavia sejak tanggal 30
Mei 1619 M Sumedang Larang sudah bergabung dengan kerajaan Mataram,
daerah Karawang dan Bekasi inilah menjadi daerah penting dalam
pertemuan-pertemuan melawan pasukan kerajaan Mataram yang dibantu oleh
pasukan-pasukan kerajaan kecil dari daerah Jawa Barat melawan Belanda.
Di saat itulah daerah Bekasi dan Karawang terkenal dijadikan daerah
persediaan bahan makanan untuk peperangan melawan Belanda dengan
dibukanya hutan dan rawa-rawa untuk persawahan di samping pusat
pengumpulan pasukan dalam melawan tentara VOC yang menguasai Sunda
Kelapa dan Jayakarta. Pada akhirnya, Bekasi ada dalam kekuasaan Belanda
menjadi salah satu daerah Meeser Comelis (Jatinegara) dan setelah jaman
Jepang berkuasa, Bekasi menjadi wilayah kabupaten terlepas dari
Kabupaten Karawang yang berkedudukan ibukotanya di Purwakarta.
Namun perlu diketahui pula Jatinegara atau Kabupaten Jatinegara berusaha
menjadi Kabupaten Bekasi, Kabupaten Jatinegara berubah menjadi
Jatinegara yang meliputi Gun Cikarang, Gun Bekasi, Gun Kebayoran dan Gun
Matraman.
Pada masa revolusi fisik ibukota kabupaten Jatinegara berpindah-pindah
dari Bekasi ke Tambun, Cikarang dan terakhir di Kedung Gede sebagai
daerah perjuangan (Front Perjuangan). Pada tanggal 21 Juli 1947 tentara
Belanda menyerang daerah RI sehingga pemerintah Kabupaten Jatinegara
turut bergerilya untuk mempertahankan kemerdekaan. Pada tanggal 17
Februari 1960 rakyat Bekasi kurang lebih 40.000 orang mengusulkan kepada
pemerintah pusat untuk mengganti nama Kabupaten Jatinegara menjadi
Kabupaten Bekasi.
(disunting dari berbagai sumber).
Tulisan M. Abba Eban di blog kampungbetawiora.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar